Ramai Dibeli Belum Tentu Menguntungkan, Ini Kesalahan yang Sering Terjadi
Oleh Edelin
Share
Ramai Dibeli Belum Tentu Menguntungkan, Ini Kesalahan yang Sering Terjadi
Karena penjualan terus meningkat setiap hari, banyak pemilik bisnis menganggap usaha mereka berhasil. Produk laris, pelanggan ramai, dan pendapatan terus meningka. Namun, banyak pemilik bisnis tidak dapat menemukan jawaban yang pasti untuk pertanyaan, "produk mana yang sebenarnya paling menguntungkan?".
Sebagian besar orang hanya melihat barang yang paling banyak terjual atau yang menghasilkan uang paling banyak. Namun, barang dengan penjualan tertinggi tidak selalu menghasilkan keuntungan terbesar. Ini menyebabkan banyak bisnis terlihat sibuk, tetapi keuntungan tidak meningkat.
Artikel ini membahas mengapa pemilik bisnis seringkali tidak tahu produk mana yang paling menguntungkan, bagaimana hal ini berdampak pada bisnis, dan bagaimana mengetahui profit produk dengan lebih akurat.
Owner Sering Fokus pada Omzet, Bukan Profit
Menganggap omzet sebagai ukuran utama keberhasilan bisnis adalah kesalahan paling umum. Sebagai contoh, produk A menjual Rp 20.000.000 setiap bulan dengan margin keuntungan 10%, sedangkan produk B menjual Rp 8.000.000 setiap bulan dengan margin keuntungan 40%. Produk A tampak lebih besar dari segi omzet, tetapi produk B mungkin lebih menguntungkan dari segi keuntungan bersih.
Banyak pemilik bisnis terlena dengan jumlah penjualan yang tinggi tetapi tidak menyadari bahwa biaya operasional, bahan baku, diskon, dan promosi semuanya mengurangi margin keuntungan mereka. Yang hasilnya, strategi bisnis menjadi tidak efisien karena produk yang sebenarnya tidak menguntungkan terus diprioritaskan.
Tidak Ada Data Penjualan yang Detail
Pencatatan penjualan yang tidak akurat adalah masalah berikutnya. Masih ada banyak perusahaan, yang:
Mencatat transaksi secara manual
Tidak membedakan jenis produk
Tidak memiliki laporan profit per item, dan
Tidak dapat membantu stok secara akurat
Tanpa data-data tersebut, pemilik hanya bergantung pada perasaan atau asumsi, Namun, dalam bisnis kontemporer, keputusan tidak hanya dapat dibuat berdasarkan intuisi. Data penjualan menjadi dasar penting untuk mengetahui:
Produk yang paling banyak dibeli
Produk paling jarang dibeli
Produk dengan margin keuntungan tertinggi, dan
Produk yang menyebabkan kerugian
Owner akan kesulitan membuat strategi penjualan, stok, dan promosi tanpa laporan yang tepat.
Produk Laris Belum Tentu Menghasilkan Profit Tinggi
Meskipun beberapa barang sangat diminati, tetapi:
Margin terlalu tipis
Biaya produksi tinggi
Sering terkena diskon
Biaya operasional yang tinggi
Sebaliknya, ada produk yang menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar meskipun penjualannya lebih sedikit. Dalam bisnis F&B, seperti, menu kopi susu mungkin memiliki pelanggan yang paling banyak, tetapi dessert premium mungkin menghasilkan lebih banyak keuntungan. Kalau owner hanya fokus pada produk terlaris, bisnis bisa terus bekerja keras tanpa peningkatan profit yang signifikan.
Diskon Membuat Perhitungan Profit Tidak Akurat
Banyak perusahaan melakukan promo tanpa mempertimbangkan dampak promo tersebut terhadap keuntungan. Meskipun diskon dapat meningkatkan transaksi, apabila tidak dihitung dengan benar, maka, margin keuntungan menjadi sangat kecil dan produk terlihat laris padahal profit menurun.
Misalnya, setelah promosi, produk yang biasanya untuk Rp 20.000 per item menjadi hanya Rp 5.000. Penjualan mungkin meningkat, tetapi keuntungan total tidak mungkin meningkat.
Karena itu, penting untuk melihat laporan profit setelah diskon daripada hanya jumlah transaksi saja.
Owner Tidak Menghitung Biaya Tersembunyi
Adanya biaya tersembunyi adalah salah satu alasan mengapa mengetahui produk mana yang paling menguntungkan bagi pemilik usaha adalah sebuah tantangan. Beberapa biaya yang sering tidak dihitung, seperti, packaging, biaya aplikasi online, subsidi ongkos kirim, komisi marketplace, bahan rusak/reject, dan biaya operasional.
Akibatnya, meskipun keuntungan sebenarnya jauh lebih kecil, di atas kertas tampak sangat besar. Produk yang tampak menguntungkan mungkin sebenarnya hanya "ramai omzet".
Tidak Menggunakan Sistem yang Terintegrasi
Banyak bisnis masih menggunakan pencatatan terpisah. Laporan dibuat sendiri, penjualan dicatat secara manual dalam, stok manual menggunakan excel, dsb. Data sulit dianalisis secara menyeluruh karena sistem tidak terintegrasi.
Padahal dengan sistem POS modern, pemilik bisnis dapat melihat:
Karena mereka terlalu fokus pada omzet dan jumlah transaksi, banyak pemilik bisnis tidak tahu produk mana yang paling menguntungkan, Namun, keuntungan perusahaan ditentukan oleh margin, biaya efisien, dan akurasi data.
Produk yang paling laris tidak selalu merupakan produk terbaik untuk bisnis. Tanpa laporan yang rinci, pemilik bisnis dapat membuat pilihan yang salah tentang stok barang, strategi pemasaran, dan pengelolaan operasi.
Karena itu, bisnis modern membutuhkan sistem yang dapat memberikan data penjualan dan keuntungan secara real-time. Dengan data ini, pemilik bisnis dapat lebih mudah menentukan produk mana yang harus diprioritaskan, dipromosikan, dan dikembangkan untuk terus meningkatkan keuntungan perusahaan.